Thumb
Thumb

20 Jan, 2026

Malam Penentu Arah di Lapangan Konggoasa

Cerita Unggun

Malam itu, Lapangan Konggoasa, Kolaka tampak berbeda. Di bawah cahaya lampu temaram dan sinar bulan yang sesekali tertutup awan, puluhan peserta bersiap mengikuti praktik lapangan penentuan arah menggunakan kompas. Suasana hening bercampur antusiasme terasa kuat, menandai dimulainya salah satu sesi paling menantang dalam kegiatan scouting skill Navigasi Darat .

Peserta dibagi menjadi 11 kelompok, masing-masing menerima satu set kompas dan lembar instruksi. Tantangan malam ini bukan sekadar membaca derajat dan menentukan azimut, tetapi menguji ketelitian, kerja sama tim, dan pemahaman lapangan yang sesungguhnya. Setelah aba-aba diberikan, setiap kelompok mulai bergerak. Beberapa tampak percaya diri menentukan arah, sementara yang lain terlihat ragu ketika jarum kompas tidak menunjukkan arah yang konsisten. Kebingungan mulai muncul arah yang seharusnya ke utara justru bergeser, bahkan berputar tidak stabil.

Tim yang menyadari hal inkonsistensi pada jarum kompasnya melakukan refleksi singkat, dan khusus tim saya menyadari disaat putaran ketiga, namun tim saya mengabaikan untuk mengulangi ketitik awal ada faktor kelelahan disana hehehe…alasan mulai muncul. Di sinilah peserta mulai menyadari satu hal penting yang sering terlupakan dalam praktik kompas malam hari: dalam diri manusia terdapat banyak medan magnet. Jam tangan, ponsel, ikat pinggang, kunci, senter yang digenggam hingga penjepit kaju terlalu dekat ternyata memengaruhi kerja kompas.

Beberapa peserta yang sebelumnya heran akhirnya tertawa kecil ketika mengetahui bahwa ponsel di saku celana atau senter di tangan merekalah “penyebab kesalahan arah”. Setelah semua benda bermedan magnet dijauhkan, kompas kembali menunjukkan arah yang benar. Praktik dilanjutkan. Kali ini, setiap kelompok lebih berhati-hati. Kompas dipegang pada jarak aman dari tubuh, dan penentuan arah dilakukan dengan saling mengonfirmasi antar anggota. Hasilnya pun jauh lebih akurat. Kepercayaan diri meningkat, dan semangat belajar semakin terasa.

Malam di Lapangan Konggoasa bukan hanya mengajarkan cara membaca kompas, tetapi juga memberi pelajaran berharga bahwa *kesalahan kecil yang diabaikan dapat berpengaruh besar di lapangan.* Peserta belajar bahwa pemahaman teori harus selalu disertai kesadaran praktis dan disiplin lapangan.

Di sesi selanjutnya , seluruh peserta dikumpulkan kembali di titik awal. Suasana hening berubah menjadi penuh antusias saat pengumuman empat regu terbaik disampaikan oleh instruktur. Penilaian didasarkan pada ketepatan arah, kerja sama regu, disiplin penggunaan kompas, dan waktu penyelesaian.

Empat regu yang diumumkan sebagai regu terbaik menerima tepuk tangan meriah dari seluruh peserta. Bagi yang belum berhasil, pengalaman malam itu tetap menjadi pelajaran berharga tentang ketelitian, kesadaran diri, dan pentingnya memahami kondisi lapangan secara utuh.

Kegiatan ditutup dengan evaluasi singkat. Di bawah langit malam Kolaka, para peserta pulang dengan satu bekal penting: kompas bukan hanya alat penunjuk arah, tetapi juga cermin ketelitian dan kesiapan seorang Pramuka di medan sebenarnya.

Namun, pelajaran lapangan ternyata belum sepenuhnya berakhir.

Dalam perjalanan pulang, rombongan mengalami sebuah insiden yang cukup menegangkan. Banjian mobil sebalah kanan pengangkut peserta hampir terlepas, menimbulkan situasi berbahaya yang nyaris menyebabkan korban. Beruntung, kejadian tersebut cepat disadari oleh kak Hastu, yang dengan sigap menahan banjian bak mobil disisi kanan..

Insiden itu tidak menelan korban jiwa, tetapi meninggalkan kesan mendalam bagi saya pribadi. Kejadian tersebut menjadi pengingat nyata bahwa keselamatan adalah prioritas utama, tidak hanya saat kegiatan inti berlangsung, tetapi juga dalam setiap tahapan perjalanan, termasuk mobilisasi dan kepulangan.

Malam di Konggoasa akhirnya ditutup dengan rasa syukur. Para peserta pulang membawa pengalaman berharga bukan hanya tentang cara menentukan arah menggunakan kompas di malam hari, tetapi juga tentang kewaspadaan, tanggung jawab, dan pentingnya manajemen risiko dalam setiap kegiatan lapangan.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa dalam kepramukaan, *pelajaran terbaik sering kali datang dari pengalaman langsung, baik yang direncanakan maupun yang tak terduga.

Penulis : Yudi Zulkaryan Turusi